Selasa, 24 September 2013

Itu kampus gw!! Universitas Darma Persada, UNSADA




Hai teman-teman mau share pengalaman nih!

Melihat teman-teman dan adik-adik kelas wisuda, jadi teringat setahun lalu tanggal 12 September 2012. Saat itu hari bahagia gw, orang tua, saudara dan teman-teman, yaa!! gw juga wisuda, di Gedung Dhanapala, Jakarta Pusat. Senyum-senyum sumringah dan hati udah ngga gundah gulana lagi. Skripsi udah kelar dengan susah payah, doa, usaha, waktu, tangis, tawa, semuanya udah tercampur kayak adonan kue bolu yang dimasukkin ke oven. Jadi sarjanawati pertama di rumah, bangga dan membuat mereka bangga. Mau bilang "hatur nuhun ka sadayana" orang tua, adik2, teman-teman, dosen-dosen, all staff, tukang poto kopi, abang tukang print, asupan makan dari KanSas (Kantin Sastra), KanTek (Kantin Teknik), Halte ada mi ayam Pak'de, sup buah si ibu, batagor, ya masihh banyak lagii. Setelah lulus, gw mulai masuk ke pintu gerbang kehidupan yaitu cari duit.

Setelah lulus, ya apalagi kalo bukan cari kerja!! Lamar sana, lamar sini. Setiap mau tes atau interview pasti yang ngelamar dari berbagai kampus di penjuru daerah bahkan negara. Pasti obrolan saat nunggu waktu tes "lulusan dari mana?", ya gw jawab aja kalo gw lulusan dari Universitas Darma Persada. Mereka pasti bilang "Darma Persada, dimana ya?". Wah ternyata ga ada yang tau kampus gw, ya sudahlah. Semuanya kembali ke skill dan rezeki. Walaupun jarang yang kenal sama kampus gw, gw yakin kampus gw adalah kampus terbaik dengan dosen-dosen yang luar biasa. Nyatanya, rekan-rekan kerja gw, lulusan dari kampus bonafit, bahkan Universitasnya Indonesia. Jadi, mau dimanapun kampus kita, tunjukin skill kita, dan buktiin kalo kampus kita udah melahirkan orang-orang yang luar biasa. Where's a will, there's a way.


INI DIA DOSEN DAN TEMEN-TEMEN GW YG LUAR BIASA!





Jumat, 20 September 2013

DUA CERMINAN KARAKTER AMERIKA DALAM PATUNG LIBERTY



TEMAN-TEMAN MAU SHARE BACAAN YANG BISA DIBACA NIH! MAKALAH WAKTU JAMAN KULIAH. Pasti banyak yang perlu diperbaiki, kritik dan sarannya ditunggu.

Enjoy this Paper! 

Makalah Nilai Budaya Amerika


Oleh
Nita Anggre Rompas
JAKARTA
2011

BAB I
PENDAHULUAN
Liberty Enlightening the World, lebih dikenal dengan nama Statue of Liberty atau Patung Liberty dalam bahasa Indonesia, adalah suatu patung berukuran raksasa yang terletak di Pulau Liberty, di muara Sungai Hudson di New York Harbor, Amerika Serikat. Patung ini dihadiahkan Perancis untuk Amerika Serikat pada akhir abad ke-19 dan merupakan suatu simbol selamat datang untuk pengunjung, imigran dan orang Amerika yang kembali.
Patung Liberty, kebanggaan dan simbol Kota New York, ternyata bukan dibuat di New York. Patung tersebut, yang ternyata di desain oleh pemahat Prancis, Frederic-Auguste Bartholdi pertama kali dibangun dan disusun di Prancis pada tahun 1874. Patung Dewi Kemerdekaan tersebut dipersembahkan oleh rakyat Prancis kepada rakyat Amerika, sebagai hadiah ulang tahun kemerdekaan Amerika yang ke-100. Setelah selesai dibuat di Prancis, patung tersebut dibongkar, dan dikemas dalam 200 muatan besar untuk dikirim ke Amerika. Patung Liberty selanjutnya disusun kembali di Bedloe’s Island di mulut pelabuhan Kota New York. Sedemikian lama proses pengepakan ini, hingga patung Liberty baru bisa diresmikan pada tanggal 28 Oktober 1886, sepuluh tahun setelah HUT kemerdekaan Amerika yang ke-100. Dengan tinggi 46 meter dan berat 204 ton, Patung Liberty berdiri diatas landasan setinggi 46 meter. Bagian dalamnya diisi oleh rangka baja, sementara bagian luarnya dibuat dari plat tembaga. Rangka baja patung Liberty, dibuat dan dirancang oleh Gustave Eiffel, orang yang juga merancang dan membangun Menara Eiffel. Patung Liberty adalah salah satu lambang AS yang paling terkenal di seluruh dunia, dan melambangkan kemerdekaan dan kebebasan dari tekanan.
Dengan tinggi 46 meter dan berat 204 ton, Patung Liberty berdiri diatas landasansetinggi 46 meter. Bagian dalamnya diisi oleh rangka baja, sementara bagianluarnya dibuat dari plat tembaga. Rangka baja patung Liberty, dibuat dan dirancang oleh Gustave Eiffel, orang yang juga merancang dan membangun Menara Eiffel.
Patung Liberty adalah salah satu lambang Amerika Serikat yang terkenal di seluruh dunia yang juga melambangkan simbol selamat datang, kemerdekaan, dan kebebasan dari tekanan.
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, saya mengidentifikasikan masalah utama pada patung Liberty yang mencerminkan karakter bangsa Amerika. Saya berasumsi bahwa patung Liberty mencerminkan individualisme dan liberalisme Amerika.
Saya membatasi masalah pada individualisme dan liberalisme Amerika pada dalam diri patung Liberty. Masalah dalam makalah ini adalah apa saja yang digambarkan patung Liberty dalam mencerminkan individualisme dan liberalisme Amerika dan bertujuan menjelaskan karakter Amerika yang dicerminkan dalam diri patung Liberty. Malakah ini menggunakan metode kualitatif.
Miller (1991:240) mengatakan “Individualisme merupakan konsep yang mencakup berbagai ide, perilaku dan doktrin yang faktor utamanya adalah terpusat oleh individu. Pengertiam imdividu dapat diartikan sebagai mengutamakan hak asasi manusia yang melindungi kemerdekaan dan kepentingan individu menghargai perbedaan.” Albertine Minderop, (2006:24).
Selain itu, menurut john Stuart Mill Liberalisme menekankan kemerdekaan individu. Liberalisme sangat berkaitan dengan kebebasan, peranan pemerintah terbatas dan tidak dapat melanggar hak hak kemerdekaan individu.
  

BAB II
INDIVIDUALISME DAN LIBERALISME
(DALAM DIRI PATUNG LIBERTY)

Patung Liberty merupakan ikon Negara Amerika dan juga mencerminkan dua karakter bangsa Amerika, yaitu Individualisme dan Liberalisme. Untuk membuktikan hal tersebut adalah sebagai berikut:
A. Individualisme
Menurut Miller, Individualisme merupakan konsep yang mencakup berbagai ide, perilaku dan doktrin yang faktor utamanya adalah terpusat oleh individu. Patung Liberty dihadiahkan Perancis untuk Amerika Serikat pada akhir abad ke-19 dan merupakan suatu simbol selamat datang untuk pengunjung, imigran dan orang Amerika yang kembali. Ketika mereka menjadi perantau di negeri orang, mereka harus mempertahankan hidup dengan bekerja keras demi mengembangkan diri, meraih kesejahteraan, sehingga memperkokoh individualisme. Hampir seabad lebih, orang orang Amerika pergi ke London dan Paris untuk mencari hal hal yang lebih luhur atau mendapatkan hidup yang mapan.
Citra positif Individualisme telah menekankan orang orang Amerika sebagai perintis yang keluar ke hutan belantara, di antara binatang buas, dan berjalan sendirian. Patung ini, sebagai lambang unruk menyambut para perantau ketika kembali ke Amerika. Itu mencerminkan individualisme Amerika. Karena,  faktor utamanya adalah terpusat oleh individu sehingga menuntut mereka untuk melakukan segalanya sendiri dalam perantauan.


Dibawah ini adalah Patung Liberty sebagai simbol selamat datang untuk pengunjung, imigran dan orang Amerika yang kembali.



B. Liberalisme

Patung Liberty dipersembahkan oleh rakyat Prancis kepada rakyat Amerika, sebagai hadiah ulang tahun kemerdekaan Amerika yang ke-100 dan bebas dari tekanan. Nama Liberty berasal dari nama dewi Romawi kuno, Libertas, yang melambangkan kebebasan dan kemerdekaan. Liberty membawa sebuah tablet yang bertuliskan July 4, 1776 dalam huruf Romawi yang merupakan hari kemerdekaan USA.

Banyak imigran yang datang ke Amerika karena mendambakan kebebasan dalam berbagai aspek kehidupan. Itu membuktikan bahwa Amerika menganut paham Liberalisme. Patung Liberty merupakan hadiah ulang tahun kemerdekaan Amerika yang ke-100. Berarti Amerika bebas, merdeka, dari tekanan. Sebagai contoh, sebuah tablet yang bertuliskan July 4, 1776 dalam huruf Romawi yang merupakan hari kemerdekaan USA

                    Terukir tanggal kemerdekaan
                    Amerika dalam bahasa romawi July 4,
                    1776.

Gambar di atas merupakan tablet yang bertuliskan tanggal kemerdekaam di Amerika. Itu membuktikan bahwa kebebasan sudah berada dalam genggaman orang orang Amerika.



BAB III
KESIMPULAN

Patung Liberty merupakan patung yang mencerminkan Individualisme dan Liberalisme bangsa Amerika. Hal itu dibuktikan dari simbol selamat datang untuk pengunjung, imigran yang mencerminkan Individualisme Amerika dan orang Amerika yang kembali dan dari nama patung serta tablet yang digenggam yang bertuliskan tanggal kemerdekaam di Amerika yang mencerminkan Liberalisme Amerika.

Dari hal hal di atas membuktikan bahwa terbentuknya karakter Individualisme dan Liberalisme Amerika telah dicerminkan dengan berdirimya sebuah patung yang benama Liberty.


DAFTAR PUSTAKA


Minderop, Albertine. 2006. PRAGMATISME Sikap Hidup dan Prinsip Politik Luar
Negeri Amerika. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia


Hermoyo dan Masri Maris. 1994. MENGENAL MASYARAKAT DAN BUDAYA
AMERIKA SERIKAT Jilid II. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia (Buku Terjemahan)






NITA ANGGRE ROMPAS
(NAR)

Rabu, 18 Mei 2011

Language acquisition (pemerolehan bahasa)

INTRODUCTION


All people must agree that language is the most important thing for human life. The language is connecting people to the society, even the world. Without the language, the knowledge and the information have never been known by the people. When we wanted to express something , we will produce the sounds. It is called as language. The brain is the most important think to speak. When we study about the language, we have to know how the acquisition of the language. Why study language?.......language is mirror of the mind in a deep and significant sense. It is product of human intelligence, created anew in each individual by operations that lie far beyond the reach of will or consciousness. (Chomsky, Reflections on language, 1975)

The acquisition is used as process to understand the first language. But, Soenjono Dardjowidjojo said that it is a process to understand the language is done by the children as natural when they learnt the native language (the mother tongue). Some Linguists said that the acquisition of language is started before the birth. This is proved that the baby to show the reaction when they heard the mother’s voice. So, the baby has known the mother’s voice since in the uterus.

Language acquisition is the process by which humans acquire the capacity to perceive, produce and use words to understand and communicate. This capacity involves the picking up of diverse capacities including syntax, phonetics, and an extensive vocabulary. This language might be vocal as with speech or manual as in sign. Language acquisition usually refers to first language acquisition, which studies infants' acquisition of their native language, rather than second language acquisition that deals with acquisition (in both children and adults) of additional languages.



Most of people learn more than 1 language in this world. A child can knows or learns two languages or more than the beginning of life: For example, when the parents use the different language in and out of home. The result is the children learn the second language after the first language is understood by them. The development’s child speaking skill is not only seen from phonology aspect. It’s seen from syntax, is a skill to arrange the sentence.: from semantic aspect; is a skill to understand or express the mean, the word, or the sentence; from pragmatic aspect; is a skill to use the language on the social context.




ANALYSIS

The children have various way to explore the nature of language. There has been enduring argumentation over the respective rules of environment and innate (or inborn) abilities in helping the child master language. Do adults gently “teach” language to children by using special kinds of language with them, and providing them with feedback when they used the language well or poorly. Linguist Noam Chomsky’s (1957) Syntactic Structures and (1958) critique of Skinner’s (1957) Verbal Behavior caused both linguists and psychologists to view language in new ways. Linguists were challenged to enlarge the goals of linguistic inquiry beyond the description of structural regularities in a given language. Generative grammarians sought to include speakers’ intuitions about grammatical and tenses in a language (such as between actives and their corresponding passives), and the problem of language acquisition by children.

Some Linguists said that the acquisition of language is started before the born (birth). This is proved by the baby to show the reaction when they heard the mother’s voices. So, the baby has known the mother’s voice since in the uterus. For example, the baby’s weeping is communication sign. The mother will know the mean of baby’s weeping; may be, the baby is hungry, cold, even sick. In about 6 or 7 weeks, the baby will produce the sounds, it almost same with consonant and vowel. This development is called cooing. In 6 months, the baby produce the mix sound is almost same with consonant with the sound almost same with vowel. This development is called as babbling. After that, the child will speak the first word. Step by step, the child will combine two words to form the sentence. In about 3 or 4 years old, the child gets the base sentence which is used the adult. In about 10 years, the speaking skill is same like the adults. (Pesona Bahasa Langkah Awal Memahami Linguistik, 2007, 24)


Language in the baby develops through several general stages:
• Babbling (3-6 months)
• The first word is understood (6-9 months)
• understand simple instructions (9-12 months)
• The first word spoken (10-15 months)
• Increasing vocabulary and acceptance (more than 300 words at age 2 years).
• Next three years will develop vocabulary more rapidly again


There are some problems because of bad acquisition. If the children get bad acquisition, they can’t get how to speak well.

The cases of bad acquisition language for the children :

In 1800, in Sain-Sermin, France, was found a son (11-12 years). Victor often came to the village. From the forest to looked for the food. He was arrested and educated by the Director of the Deaf Institution , Dr. Sicard, “Wild Boy of Aveyron”. Dr. Sicard is able to change the behavior of child, but not for the child language (the child is unable to speak).

In other time, 1970 there is a daughter (13 years old) in Los Angeles, California. She is an object of the research and named Ginie (Curtiss, 1977). Ginie was founding 1970, she was locked up by his father for 13 years. She was given the food, but never speaks. After she has been found, she was learnt to speak. For 8 years, she was learnt, but she is unable to speak like others.

On the contrary, Isabelle is a daughter 6 ½ years is cared by the dumb mother in Ohio, Columbus, America shows the different result. Because of her age was young, Isabelle was cared as normal by Marie Mason in the hospital. The result that she can speaks to other children. (Steinberg and friends 2001: 127-135)

From all cases prove that the children under 8 years old are able to change or develop their language. But, when the children up 8 years, it will impossible to change.

The Biology evolution is a base of language development. Noam Chomsky said that every children have language acquisition device (LAD), is the child’s natural skill to speak. When the introduction the language never happened before the teenager, so make the children are unable to use the good language for their life.

Chomsky (1999: 41):

……..language is learning is not something that the child does; its is something that happens to the child placed in the appropriate environment, much as the child’s body grows and matures in a predetermined way when provided with appropriate nutrition and environmental stimuli.


How the children understand the meaning

Way of the children understand the meaning isn’t easy thing. The children follow the universal base, the one is a overextension. The children prefer to take one feature from that concept, then the realize to other concept which has that feature. In brief, the overextension is based on form, size, act, sound, texture. Eve Clark (1975 in Clark and Clark 1997: 494) gives table and this example:
Word

First Referent
Domain of application
Sch

Ass




Fly




Em


bebe



fafer



sizo

bow-bow



wau-wau



va
Sound  of train

Toy got with rough hide on wheels



Fly




Worm


Baby



Sound of train



Scissors

Dog



Dog



White plush dog
All moving machines

A few things that (e.g. animals, sister, wagon); all things that move; all things with a rough surface

specks of dirt, dust, all small insects, child’s own toes, crumbs of bread. A toed

flies, ants, all small insects, heds of timothy grass

other babies, small statutes, figures in small pictures and prints

steaming coffee pot, anything hisses or makes a noise

all metal objects

toy dog, fur piece with animal head, other fur pieces

all animal, toy dog, soft house slippers, picture of an old man dressed in furs

muffer plush dog

CONCLUSION

Language is an integral aspect of our human existance. Whilethe ability to formulate and understand language underlies almost every activity, the mental operations which enable languageuse are still poorly understood.

These examples of language learning, processing, and creation represent just a few of the many developments between birth and linguistic maturity. During this period, children discover the raw materials in the sounds (or gestures) of their language, learn how they are assembled into longer strings, and map these combinations onto meaning. These processes unfold simultaneously, requiring children to integrate their capacities as they learn, to crack the code of communication that surrounds them. nce children begin to link words together, experiments using real-time measures of language processing can reveal the ways linguistic and nonlinguistic information are integrated during listening. Natural experiments in which children are faced with minimal language exposure can reveal the extent of inborn language-learning capacities and their effect on language creation and change.

In brief, the acquisition of language is important thing in speaking. If they got best acquisition, they would have good speaking skill. If not, they never get it. Because the acquisition determines how the children speak to others. All we know that the acquisition is used in the process to understand the first langusge.


(ini adalah makalah yang saya buat saat mata kuliah psikologi linguistik semeter empat, masih banyak hal yang harus dikoreksi) thanks..

PRAG MATIK PENGERTIAN DAN ASPEK PRAGMATIK

 


Definisi pragmatik dikemukakan oleh beberapa ahli dengan redaksi yang berbeda. Thomas (1995: 22), dengan mengandaikan bahwa pemaknaan merupakan proses dinamis yang melibatkan negosiasi antara pembicara dan pendengar serta antara konteks ujaran (fisik, sosial, dan linguistik) dan makna potensial yang mungkin dari sebuah ujaran ujaran, mendefinisikan pragmatik sebagai bidang yang mengkaji makna dalam interaksi (meaning in interaction). Morris (1960) mengatakan bahwa pragmatic merupakan disiplin ilmu yang mempelajari pemakaian tanda, yang secara spesifik dapat diartikan sebagai cara orang menggunakan tanda bahasa dan cara tanda bahasa itu diinterpretasikan. yang dimaksud orang menurut definisi tersebut adalah pemakai tanda itu sendiri, yaitu penutur.
            Menurut Leech (1993:8), Pragmatik adalah studi tentang makna dalam hubungannya dengan situasi-situasi ujar  (speech situations) yang meliputi unsur-unsur penyapa dan yang disapa, konteks, tujuan, tindak ilokusi, tuturan, waktu, dan tempat.
            Yule (1996:3) menyebutkan empat definisi pragmatik , yaitu:
(1)  Bidang yang mengkaji makna penutur;
(2)  Bidang yang mengkaji makna menurut konteksnya;
(3)  Bidang yang melebihi kajian tentang makna yang diujarkan, mengkaji makna yang dikomunikasikan atau terkomunikasikan oleh pembicara; dan
(4)  Bidang yang mengkaji bentuk ekspresi menurut jarak sosial yang membatasi participant yang terlibat dalam percakapan tertentu.
Sedangkan Levinson (1987:1) mengatakan bahwa pragmatik adalah ilmu yang mempelajari hubungan anatara lambang dengan penafsirannya.
Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahawa pragmatik merupakan cabang ilmu bahasa yang mengkaji segala aspek makna tuturan berdasarkan maksud penutur.

B.   Aspek-Aspek Pragmatik

Pragmatik adalah suatu kajian yang makna dan hubungannya dengan situasi ujar. adapun aspek-aspek dalam situasi ujar, yaitu:
1.    Yang menyapa (penyapa) atau yang disapa (pesapa).
Orang yang menyapa (penutur) dan orang (petutur). Jadi, penggunaan penutur dan petutur membatasi pragmatic pada bahasa lisan saja.

2.    Konteks sebuah tuturan
Berkaitan dengan lingkungan fisik dan sosial sebuah tuturan. Konteks diartikan sebagai suatu pengetahuan latar belakang yang sama-sama dimiliki oleh penutur dan petutur yang membantu petutur menafsir makna tuturan.

3.    Tujuan sebuah tuturan
Berkaitan dengan maksud penutur mengucapkan sesuatu.

4.    Tuturan sebagai bentuk tindakan atau kegaiatn tindak ujar
Pragmatik berurusan dengan tindak-tindak / performansi-performansi verbal yang terjadi dalam situasi dan waktu tertentu.

5.    Tuturan sebagai produk tindak verbal
Tindak ilokusi / ilokusi untuk mengacu pada tindakan-tindakan tuturan seperti yang dinyatakan dalam dan memakai istilah tuturan untuk mengacu pada tindakan tuturan seperti yang telah diterangkan dalam tindak ujar. Dengan memakai istilah tuturan untuk mengacu produk linguistic tindakan tersebut. Dengan demikian, dalam komunikasi yang berorientasi tujuan, meneliti sebuah tuturan merupakan usaha merekonstruksi tindakan apa yang menjadi tujuan penutur ketika ia meronstruksi tindakan apa yang menjadi tujan penutur ketika ia memproduksi tuturannya. GOOD LUCK....

Sabtu, 07 Mei 2011

ANALISIS TINDAK TUTUR PERFORMATIF PADA FILM SHERLOCK HOLMES Karya : Michael Robert Johnson dan Anthony Peckham



Nita Anggre Rompas/ 08130002



ENGLISH DEPARTMENT
FACULTY OF LETTERS
UNIVERSITY OF DARMA PERSADA
JAKARTA
2011

BAB 1
Pendahuluan

Pragmatik dapat dianggap berurusan dengan aspek-aspek  informasi (dalam pengertian yang paling luas) yang disampaikan melalui bahasa yang (a) tidak dikodekan oleh konvensi yang diterima secara umum dalam bentuk-bentuk linguistik yang digunakan, namun yang (b) juga muncul secara alamiah dari dan tergantung pada makna-makna yang dikodekan secara konvensional dengan konteks tempat penggunaan bentuk-bentuk tersaebut [penekanan ditambahkan] (Cruse, 2000:16) dalam susandi.files.wordpress.com/2010/01/pragmatik.ppt.
Seorang filsuf yang bernama Austin (1911-1960) dalam bukunya yang berjudul How to Do Things with Words (1962) mencetuskan teori tindak tutur (Speech Act Theory). Menurutnya, saat bertutur orang tidak hanya bertutur namun juga melakaukan suatu tindakan. Disamping itu, yang membedakan tuturan kalimatnya bermodus deklaratif menjadi dua yaitu konstatif dan performatif. Tindak tutur konstatif adalah tindak tutur yang menyatakan sesuatu yang kebenarannya dapat diuji –benar atau salah—dengan menggunakan pengetahuan tentang dunia. Sedangkan tindak tutur performatif adalah tindak tutur yang pengutaraannya digunakan untuk melakukan sesuatu, pemakai bahasa tidak dapat mengatakan bahwa tuturan itu salah atau benar, tetapi sahih atau tidak.
Ketika dikaitkan antara penutur dan lawan bicara akan terbentuk suatu tindak tutur dan peristiwa tutur. Peristiwa tutur ini pada dasarnya merupakan rangkaian dari sejumlah tindak tutur yang terorganisasikan untuk mencapai suatu tujuan. Tujuan tersebut merupakan isi pembicaraan.
Berkaitan dengan tindak tutur, pada penelitian ini akan dianalisis tindak tutur pada dialog film. Judul pada penelitian ini adalah “Analisis Tindak Tutur Performatif pada dialog film Sherlock Holmes karya Michael Robert Johnson dan Anthony Peckham”.
Tuturan yang dituturkan penutur dalam dialog film Sherlock Holmes menghasilkan suatu tindakan (Speech Act). Penulis berasumsi bahwa tindak tutur yang digunakan petutur dalam dialog film ini adalah tindak tutur performatif. Penelitian ini melingkupi dialog para pemain, yang berawal dari sebuah ujaran bisa menghasilkan suatu tindakan yakni, tindak tutur performatif.
Masalah dalam penelitian ini adalah bagaiman tindak tutur performatif dalam dialog film Sherlock Holmes. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan tindak tutur performatif pada film ini.
Tuturan atau ujaran performatif dalam Kamus Linguistik (1993:221) adalah ujaran yang memperlihatkan bahwa suatu perbuatan telah diselesaikan pembicara dan bahwa dengan mengungkapkannya berarti perbuatan itu diselesaikan pada saat itu juga.
Penelitian ini mengacu pada teori tindak tutur menurut Searle (1965). Dia adalah seorang murid yang mengkritik klasifikasi tindak tutur yang dibuat gurunya yang bernama Austin. Menurutnya, dalam klasifikasi Austin terdapat hal yang membingungkan antara verba dan tindakan, terlalu banyak tumpang tindih dalam kategori, terlalu banyak heterogenitas dalam kategori, dan yang penting adalah tidak adanya prinsip klasifikasi yang konsisten. Untuk itu, Searle kemudian mengajukan klasifikasi baru. Dengan kata lain Searle membagi tindak tutur dengan menggunakan klasifikasi yang berbeda dari Austin. Tindak Tutur diklasifikasikan oleh Searle (1969) menjadi lima kelompok yaitu deklarasi, representatif, ekspresif, direktif dan komisif dalam George Yule 1996: 53-55).
  1. Representative/asertif, yaitu tuturan yang mengikat penuturnya akan kebenaran atas apa yang diujarkan. Tuturan dengan maksud menyatakan, menuntut, mengakui, melaporkan, menunjukkan, menyebutkan, memberikan kesaksian, berspekulasi, dsb termasuk ke dalam tuturan representatif.
  2. Direktif/impositif, yaitu tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya agar si pendengar melakukan tindakan yang disebutkan di dalam tuturan itu, seperti memaksa, mengajak, meminta, menyuruh, menagih, mendesak, memohon, menyarankan, memerintah, memberikan aba-aba, dan menantang termasuk tindak tutur direktif.
  3. Ekspresif/evaluatif, yaitu tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya agar ujarannya diartikan sebagai evaluasi tentang hal yang disebutkan dalam tuturan itu.memuji, mengucapkan terima kasih, mengkritik, mengeluh, menyalahkan, mengucapkan selamat, dan menyanjung termasuk tindak tutur direktif
  4. Komisif, yaitu tindak tutur yang mengikat penuturnya untuk melaksanakan apa yang disebutkan di dalam tuturannya. Termasuk tuturan komisif antara lain: berjanji, bersumpah, mengancam, menyatakan kesanggupan, dsb.
  5. Deklaratif/establisif, yaitu tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya untuk menciptakan hal (status, keadaan, dsb) yang baru. Tuturan dengan maksud mengesahkan, memutuskan, membatalkan, melarang, mengijinkan, mengabulkan, mengangkat, menggolongkan, memaafkan, termasuk ke dalam tindak tutur deklaratif.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif kualitatif, karena data yang didapatkan berupa deskripsi tentang tindk tutur dalam dialog film Sherlock Holmes karya Michael Robert Johnson dan Anthony Peckham. Hasil analisis disajikan dalam bentuk pernyataan dengan menggunakan kata kata dan kalimat.



BAB II
Analisis
Dalam dialog film Sherlock Holmes karya Michael Robert Johnson dan Anthony Peckham ini diperoleh beberapa dialog yang menunjukkan adanya peristiwa tindak tutur  performatif. Berdasarkan teori-teori yang telah dipaparkan, maka data dianalisis dan dikelompokkan menurut jenisnya. Terdapat kemungkinan keseluruhan jumlah tindak tutur hasil analisis lebih banyak dari tindak tutur yang terdapat dalam data, karena terdapat beberapa tindak tutur yang menempati lebih dari satu kategori tindak tutur sebagaimana contoh berikut :
:
  1. a.      Deklaratif
Data:
            “Lord Henry Blackwood you are sentenced of to death for the practice of black magic. The wholly murder of five innocent young woman and the attempted murder of a sixth. Do you have any final words?          (DVD - 26:54)
Dalam dialog yang diucapkan oleh hakim tersebut memilikiunsur untuk menciptakan hal baru, karena apa yang penutur ucapkan dapat mengubah nasib seseorang yang bernama Lord Henry Blackwood untuk dihukum mati. Secara seketika dengan ujaran tersebut dapat menentukan kematian sesorang.
Selain data tersebut juga dapat dilihat pada data berikut ini:
Data:
            “That is the end of Lord Blackwood.” (DVD – 27:48)
Pada data diatas, dialog yang diucapkan oleh seorang dokter (John Watson) yang sedang memastikan denyut nadi Lord Blackwood setelah dihukum gantung. Setelah adanya pernyataan itu, itu dapat dipastikan bahwa Lord Blackwood sudah meninggal.
  1. b.      Representatif
Data:
            “I know what I saw. It was Blackwood. As clear as I see you. And when the dead walk, the living will fill these coffins.”  (DVD – 40:12)

Dari data di atas, dialog ini termasuk jenis tindak tutur representatif karena si penutur seorang penjaga kuburan mengikat dirinya akan kebenaran atas apa yang diujarkan. Dalam dialog di atas menyatakan apa yang dilihat penutur adalah benar, bahwa Blackwood telah bangkit dari kubur. Hal ini merupakan suatu kesaksian, yang termasuk ke dalam representatif.

Data:
            “That said, I believe Adler’s midget is the key to this.” (DVD – 41:31)
            Dari data di atas, Sherlock Holmes memberikan pernyataan bahwa orang cebol Adler merupakan kunci. Tuturan yang memberikan pernyataan atau menyatakan termasuk tuturan representatif.

  1. c.       Ekspresif
Data:
  1. Always nice to see you, Watson.
(DVD – 03:44)
  1. Congratulations, Lestrade!
(DVD – 06:33)
  1. It really is quite a thrill to meet you, Mr. Holmes.
(DVD – 12:31)
  1. So glad you could accept my invitation.
 (DVD – 24:36)
Dari data di atas, dialog ini merupakan jenis tindak tutur yang merupakan apa yang penutur rasakan/ keempat data di atas merupakan ekspresi yang mengungkapkan rasa yang sedang penutur rasakan. Seperti pada contoh dialog A, Sherlock Holmes mengatakan bahwa ia sangat senang bertemu dengan Watson. Tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya agar ujarannya diartikan sebagai evaluasi tentang hal yang disebutkan dalam tuturan itu.

d.  Direktif
Data:
  1. “ Watson, don’t!” (DVD – 08:30)
  2. “Mrs. Hudson. Bring something to cheer him up.” (DVD – 08:30)
  3. “let’s go!” (DVD – 20:25)
  4. “Clean yourself up” (DVD – 21:16)
Dari keempat data diatas, merupakan suatu tuturan untuk meminta petutur untuk melakukan sesuatu sesuai apa yang dituturkan oleh penuturnya. Sebagai contoh yang dialog A, Sherlock memerintahkan Watson untuk tidak melakukan hal yang ia perintahkan. Tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya agar si pendengar melakukan tindakan yang disebutkan di dalam tuturan itu.




  1. e.       Komisif
Data:
            “Pay attention. Three more will die, and there is nothing you can do to save them. You must accept that this is beyond your control or, by the time you realize you made all of this possible.” (DVD – 28:22)
            “I want you to hear witness. Tomorrow at midday the world as you know it will end.” (DVD - )
Dalam tindak tutur komisif diatas menuturnya untuk melaksanakan apa yang disebutkan di dalam tuturannya. Dalam penjelasan dialog diatas, merupakan sebuah ancaman kepada penutur. Maksudnya, akan ada yang mati lagi dan sebagai petutur ia terancam dan mengikat penutur untuk melakukan hal itu. Tindak tutur yang mengikat penuturnya untuk melaksanakan apa yang disebutkan di dalam tuturannya



BAB III
Simpulan

Tuturan performatif (performative utterance): tuturan yang memperlihatkan bahwa suatu perbuatan telah diselesaikan pembicara dan bahwa dengan mengungkapkannya berarti perbuatan itu diselesaikan pada saat itu juga.
Dari hasil analisis diatas maka dapat diketahui dan ditarik kesimpulan bahwa dalam dialog film Sherlock Holmes karya Michael Robert Johnson dan Anthony Peckham ini terdapat banyak peristiwa tindak tutur  performatif di dalamnya yang berupa tindak tutur deklarasi, representatif, ekspresif, direktif dan komisif.












DAFTAR PUSTAKA

Wijana, Dewa Putu. 1996.  Dasar- Dasar Pragmatik. Yogyakarta: ANDI Yogyakarta

Yule, George. 1996. Pracmatics. Oxford: Oxford University Press

www.dessywardiah.blogspot.com/2010/11/situasi-tutur-tindak-tutur-tuturan_1665.html

www.sutisna.com/artikel/kebahasaan/indonesia-kebahasaan/konsep-tindak-tutur/

www.blogspotcom-imade.blogspot.com/2010/04/v-behaviorurldefaultvml-o.html

www.susandi.files.wordpress.com/2010/01/pragmatik.ppt

(nb: ini adalah makalah yang saya buat saat semester IV. Semoga bisa berguna untuk referensi. )

Mau Cantik? Mau Usaha? Mau Bisnis?

     Hai Teman teman Yang ada di Jabodetabek, Bandung, Yogyakarta, Bengkulu, Padang, Palembang, Medan, Pontianak, Banjarmasin, Goront...