Sabtu, 07 Mei 2011

ANALISIS TINDAK TUTUR PERFORMATIF PADA FILM SHERLOCK HOLMES Karya : Michael Robert Johnson dan Anthony Peckham



Nita Anggre Rompas/ 08130002



ENGLISH DEPARTMENT
FACULTY OF LETTERS
UNIVERSITY OF DARMA PERSADA
JAKARTA
2011

BAB 1
Pendahuluan

Pragmatik dapat dianggap berurusan dengan aspek-aspek  informasi (dalam pengertian yang paling luas) yang disampaikan melalui bahasa yang (a) tidak dikodekan oleh konvensi yang diterima secara umum dalam bentuk-bentuk linguistik yang digunakan, namun yang (b) juga muncul secara alamiah dari dan tergantung pada makna-makna yang dikodekan secara konvensional dengan konteks tempat penggunaan bentuk-bentuk tersaebut [penekanan ditambahkan] (Cruse, 2000:16) dalam susandi.files.wordpress.com/2010/01/pragmatik.ppt.
Seorang filsuf yang bernama Austin (1911-1960) dalam bukunya yang berjudul How to Do Things with Words (1962) mencetuskan teori tindak tutur (Speech Act Theory). Menurutnya, saat bertutur orang tidak hanya bertutur namun juga melakaukan suatu tindakan. Disamping itu, yang membedakan tuturan kalimatnya bermodus deklaratif menjadi dua yaitu konstatif dan performatif. Tindak tutur konstatif adalah tindak tutur yang menyatakan sesuatu yang kebenarannya dapat diuji –benar atau salah—dengan menggunakan pengetahuan tentang dunia. Sedangkan tindak tutur performatif adalah tindak tutur yang pengutaraannya digunakan untuk melakukan sesuatu, pemakai bahasa tidak dapat mengatakan bahwa tuturan itu salah atau benar, tetapi sahih atau tidak.
Ketika dikaitkan antara penutur dan lawan bicara akan terbentuk suatu tindak tutur dan peristiwa tutur. Peristiwa tutur ini pada dasarnya merupakan rangkaian dari sejumlah tindak tutur yang terorganisasikan untuk mencapai suatu tujuan. Tujuan tersebut merupakan isi pembicaraan.
Berkaitan dengan tindak tutur, pada penelitian ini akan dianalisis tindak tutur pada dialog film. Judul pada penelitian ini adalah “Analisis Tindak Tutur Performatif pada dialog film Sherlock Holmes karya Michael Robert Johnson dan Anthony Peckham”.
Tuturan yang dituturkan penutur dalam dialog film Sherlock Holmes menghasilkan suatu tindakan (Speech Act). Penulis berasumsi bahwa tindak tutur yang digunakan petutur dalam dialog film ini adalah tindak tutur performatif. Penelitian ini melingkupi dialog para pemain, yang berawal dari sebuah ujaran bisa menghasilkan suatu tindakan yakni, tindak tutur performatif.
Masalah dalam penelitian ini adalah bagaiman tindak tutur performatif dalam dialog film Sherlock Holmes. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan tindak tutur performatif pada film ini.
Tuturan atau ujaran performatif dalam Kamus Linguistik (1993:221) adalah ujaran yang memperlihatkan bahwa suatu perbuatan telah diselesaikan pembicara dan bahwa dengan mengungkapkannya berarti perbuatan itu diselesaikan pada saat itu juga.
Penelitian ini mengacu pada teori tindak tutur menurut Searle (1965). Dia adalah seorang murid yang mengkritik klasifikasi tindak tutur yang dibuat gurunya yang bernama Austin. Menurutnya, dalam klasifikasi Austin terdapat hal yang membingungkan antara verba dan tindakan, terlalu banyak tumpang tindih dalam kategori, terlalu banyak heterogenitas dalam kategori, dan yang penting adalah tidak adanya prinsip klasifikasi yang konsisten. Untuk itu, Searle kemudian mengajukan klasifikasi baru. Dengan kata lain Searle membagi tindak tutur dengan menggunakan klasifikasi yang berbeda dari Austin. Tindak Tutur diklasifikasikan oleh Searle (1969) menjadi lima kelompok yaitu deklarasi, representatif, ekspresif, direktif dan komisif dalam George Yule 1996: 53-55).
  1. Representative/asertif, yaitu tuturan yang mengikat penuturnya akan kebenaran atas apa yang diujarkan. Tuturan dengan maksud menyatakan, menuntut, mengakui, melaporkan, menunjukkan, menyebutkan, memberikan kesaksian, berspekulasi, dsb termasuk ke dalam tuturan representatif.
  2. Direktif/impositif, yaitu tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya agar si pendengar melakukan tindakan yang disebutkan di dalam tuturan itu, seperti memaksa, mengajak, meminta, menyuruh, menagih, mendesak, memohon, menyarankan, memerintah, memberikan aba-aba, dan menantang termasuk tindak tutur direktif.
  3. Ekspresif/evaluatif, yaitu tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya agar ujarannya diartikan sebagai evaluasi tentang hal yang disebutkan dalam tuturan itu.memuji, mengucapkan terima kasih, mengkritik, mengeluh, menyalahkan, mengucapkan selamat, dan menyanjung termasuk tindak tutur direktif
  4. Komisif, yaitu tindak tutur yang mengikat penuturnya untuk melaksanakan apa yang disebutkan di dalam tuturannya. Termasuk tuturan komisif antara lain: berjanji, bersumpah, mengancam, menyatakan kesanggupan, dsb.
  5. Deklaratif/establisif, yaitu tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya untuk menciptakan hal (status, keadaan, dsb) yang baru. Tuturan dengan maksud mengesahkan, memutuskan, membatalkan, melarang, mengijinkan, mengabulkan, mengangkat, menggolongkan, memaafkan, termasuk ke dalam tindak tutur deklaratif.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif kualitatif, karena data yang didapatkan berupa deskripsi tentang tindk tutur dalam dialog film Sherlock Holmes karya Michael Robert Johnson dan Anthony Peckham. Hasil analisis disajikan dalam bentuk pernyataan dengan menggunakan kata kata dan kalimat.



BAB II
Analisis
Dalam dialog film Sherlock Holmes karya Michael Robert Johnson dan Anthony Peckham ini diperoleh beberapa dialog yang menunjukkan adanya peristiwa tindak tutur  performatif. Berdasarkan teori-teori yang telah dipaparkan, maka data dianalisis dan dikelompokkan menurut jenisnya. Terdapat kemungkinan keseluruhan jumlah tindak tutur hasil analisis lebih banyak dari tindak tutur yang terdapat dalam data, karena terdapat beberapa tindak tutur yang menempati lebih dari satu kategori tindak tutur sebagaimana contoh berikut :
:
  1. a.      Deklaratif
Data:
            “Lord Henry Blackwood you are sentenced of to death for the practice of black magic. The wholly murder of five innocent young woman and the attempted murder of a sixth. Do you have any final words?          (DVD - 26:54)
Dalam dialog yang diucapkan oleh hakim tersebut memilikiunsur untuk menciptakan hal baru, karena apa yang penutur ucapkan dapat mengubah nasib seseorang yang bernama Lord Henry Blackwood untuk dihukum mati. Secara seketika dengan ujaran tersebut dapat menentukan kematian sesorang.
Selain data tersebut juga dapat dilihat pada data berikut ini:
Data:
            “That is the end of Lord Blackwood.” (DVD – 27:48)
Pada data diatas, dialog yang diucapkan oleh seorang dokter (John Watson) yang sedang memastikan denyut nadi Lord Blackwood setelah dihukum gantung. Setelah adanya pernyataan itu, itu dapat dipastikan bahwa Lord Blackwood sudah meninggal.
  1. b.      Representatif
Data:
            “I know what I saw. It was Blackwood. As clear as I see you. And when the dead walk, the living will fill these coffins.”  (DVD – 40:12)

Dari data di atas, dialog ini termasuk jenis tindak tutur representatif karena si penutur seorang penjaga kuburan mengikat dirinya akan kebenaran atas apa yang diujarkan. Dalam dialog di atas menyatakan apa yang dilihat penutur adalah benar, bahwa Blackwood telah bangkit dari kubur. Hal ini merupakan suatu kesaksian, yang termasuk ke dalam representatif.

Data:
            “That said, I believe Adler’s midget is the key to this.” (DVD – 41:31)
            Dari data di atas, Sherlock Holmes memberikan pernyataan bahwa orang cebol Adler merupakan kunci. Tuturan yang memberikan pernyataan atau menyatakan termasuk tuturan representatif.

  1. c.       Ekspresif
Data:
  1. Always nice to see you, Watson.
(DVD – 03:44)
  1. Congratulations, Lestrade!
(DVD – 06:33)
  1. It really is quite a thrill to meet you, Mr. Holmes.
(DVD – 12:31)
  1. So glad you could accept my invitation.
 (DVD – 24:36)
Dari data di atas, dialog ini merupakan jenis tindak tutur yang merupakan apa yang penutur rasakan/ keempat data di atas merupakan ekspresi yang mengungkapkan rasa yang sedang penutur rasakan. Seperti pada contoh dialog A, Sherlock Holmes mengatakan bahwa ia sangat senang bertemu dengan Watson. Tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya agar ujarannya diartikan sebagai evaluasi tentang hal yang disebutkan dalam tuturan itu.

d.  Direktif
Data:
  1. “ Watson, don’t!” (DVD – 08:30)
  2. “Mrs. Hudson. Bring something to cheer him up.” (DVD – 08:30)
  3. “let’s go!” (DVD – 20:25)
  4. “Clean yourself up” (DVD – 21:16)
Dari keempat data diatas, merupakan suatu tuturan untuk meminta petutur untuk melakukan sesuatu sesuai apa yang dituturkan oleh penuturnya. Sebagai contoh yang dialog A, Sherlock memerintahkan Watson untuk tidak melakukan hal yang ia perintahkan. Tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya agar si pendengar melakukan tindakan yang disebutkan di dalam tuturan itu.




  1. e.       Komisif
Data:
            “Pay attention. Three more will die, and there is nothing you can do to save them. You must accept that this is beyond your control or, by the time you realize you made all of this possible.” (DVD – 28:22)
            “I want you to hear witness. Tomorrow at midday the world as you know it will end.” (DVD - )
Dalam tindak tutur komisif diatas menuturnya untuk melaksanakan apa yang disebutkan di dalam tuturannya. Dalam penjelasan dialog diatas, merupakan sebuah ancaman kepada penutur. Maksudnya, akan ada yang mati lagi dan sebagai petutur ia terancam dan mengikat penutur untuk melakukan hal itu. Tindak tutur yang mengikat penuturnya untuk melaksanakan apa yang disebutkan di dalam tuturannya



BAB III
Simpulan

Tuturan performatif (performative utterance): tuturan yang memperlihatkan bahwa suatu perbuatan telah diselesaikan pembicara dan bahwa dengan mengungkapkannya berarti perbuatan itu diselesaikan pada saat itu juga.
Dari hasil analisis diatas maka dapat diketahui dan ditarik kesimpulan bahwa dalam dialog film Sherlock Holmes karya Michael Robert Johnson dan Anthony Peckham ini terdapat banyak peristiwa tindak tutur  performatif di dalamnya yang berupa tindak tutur deklarasi, representatif, ekspresif, direktif dan komisif.












DAFTAR PUSTAKA

Wijana, Dewa Putu. 1996.  Dasar- Dasar Pragmatik. Yogyakarta: ANDI Yogyakarta

Yule, George. 1996. Pracmatics. Oxford: Oxford University Press

www.dessywardiah.blogspot.com/2010/11/situasi-tutur-tindak-tutur-tuturan_1665.html

www.sutisna.com/artikel/kebahasaan/indonesia-kebahasaan/konsep-tindak-tutur/

www.blogspotcom-imade.blogspot.com/2010/04/v-behaviorurldefaultvml-o.html

www.susandi.files.wordpress.com/2010/01/pragmatik.ppt

(nb: ini adalah makalah yang saya buat saat semester IV. Semoga bisa berguna untuk referensi. )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mau Cantik? Mau Usaha? Mau Bisnis?

     Hai Teman teman Yang ada di Jabodetabek, Bandung, Yogyakarta, Bengkulu, Padang, Palembang, Medan, Pontianak, Banjarmasin, Goront...